Dani

Dokter muda..struggling to doctor..

INDONESIA…PIALA AFF

pada 31 Desember 2010

IndonesiaSepakbola adalah olahraga favorit dimanapun kita berada, ada 22 petarung dilapangan, mewakili bendera yang dibela masing-masing, serta ada puluhan ribu pasang mata yang menyaksikan pertarungan langsung tersebut, dan masih ada ratusan juta pasang mata yang ikut tegang di balik layar kaca.

Piala AFF yang sebelumnya kita sebut piala tiger, belum pernah mampir sekalipun di pihak indonesia, sejak tahun 1996, ketika pertama kali diselenggarakan, pertarungan antar negara di ASEAN itu, belum pernah sekalipun indonesia juara.

Tahun ini, merupakan sebuah harapan terbesar, ssebelumnya sudah 3 kali indonesia masuk ke final, namun selalu kandas. Tahun ini, harapan itu muncul lagi, ya harapan itu masih ada, ketika di babak penyisihan dengan meyakinkannya tim tercinta kita, mengalahkan laos dengan 7-1, lalu melibas malaysia dengan 5-1, serta melibas tim-tim lainnya, hingga sampailah kita ke semifinal. Di semifinal, tim yang berat telah menanti, Filipina, dengan pemain naturalisasi 9 orang, tentu merupakan sebuah tantangan berat bagi indonesia, dua pemain diantaranya merupakan didikan tim sekelas Chelsea liga inggris, serta kipernya merupakan kiper cadangan ke tiga tim liga inggris Fulham. Melihat itu semua, indonesia yang juga memiliki pemain naturalisasi yaitu gonzales dan irfan bachdim, mesti bertempur keras, dan habis-habisan.

guritaSemifinal yang menegangkanpun tiba. Beruntunglah indonesia menjadi tuan rumah baik away dan home, karena filipina tidak memiliki stadion yang memenuhi syarat untuk menyelenggrakan pertandingan international tersebut. Semifinal berjalan dengan seru, indonesia tertekan habis-habisan, syukurlah masih ada pemain ke dua belas, yaitu suporter yang tak henti meneriakkan dan menyemangati tim garuda. Hasilnya, indonesia menang, dan lolos ke final.

Di pertandingan lain, malaysia, telah bertanding pula dengan vietnam. Malaysia berhasil membawa kemenangan, dan akan menghadapi indonesia di final.

Gegap gempita suasana perpolitikan indonesia perlahan pudar, tergantikan dengan berita-berita sepakbola. Di televisi, mulai dari infotainment, parade lawak, berita nasional, hingga panggung politik semuanya berisi sepakbola. Para pemain menjadi artis mendadak, namun inilah awal petakanya. Politik yang tak bersahaja di bangsa ini ternyata tak puas dan tak lega hatinya jika gegap gempita sepakbola itu tak menarik namanya juga. Akhirnya pergilah para pemain ke undangan-undangan makan, pengajian, dan jamuan-jamuan para petinggi partai.

Final pertama dimulai, di malaysia, sekitar seratus ribu penonton memadati stadion bukit jalil malaysia, dan lima belas ribu diantaranya adalah penduduk indonesia. Ada satu kata yang entah mengapa senang sekali saya mendengarnya. ”kalah menang itu biasa, kita boleh kalah melawan siapa saja, tapi bukan dengan malaysia”, malaysia adalah negara serumpun, yang sering sekali mengambil sejumput rumput-rumput di taman rumah, maka tentu tak ada kata kalah dalam kamus melawan malaysia, sehingga berkobarlah pula pertempuran sepakbola menuju kenangan-kenangan yang kelam bersama negara tetangga tersebut, mulai dari tari pendet, reog ponorogo, penyiksaan TKI, ganyang malaysia, hingga sipadan ligitan, semuanya kembali terbuka, maka pertandingan sepakbola melawan malaysia, bukan lagi menjadi perebutan piala, tapi  lebih dari itu, HARGA DIRI!!.

Final berlangsung dramatis, pertandingan sempat di hentikan di menit 60an, karena sinar-sinar laser yang menyerang markus horison, kiper utama indonesia. Laser memang menjadi senjata rahasia dari malaysia, vietnampun yang sebelumnya dikalahkan malaysia di semifinal juga mengeluhkan hal yang sama. Sontak para suporter di tribun penonton pun riuh, meneriaki kecurangan yang dilakukan malaysia.

Setelah sempat berhenti, pertandingan dilanjutkan lagi, malaysia akhirnya menang telak 3-0 di pertandingan final pertama ini. Para pemain tetap tegak, penontonpun tetap tegak, semangat juang tim garuda tetap menjadi kebanggaan. Semua berita pun menayangkan dan mendiskusikan kekalahan indonesia ini, dan tentu politik, dan jamuan-jamuan makan menjadi kambing hitam,bahkan dikabarkan juga indonesia kalah karena banyaknya setan-setan yang mengganggu, laser-laser yang menyoroti, bahkan kabar burung mengatakan malam itu markus ngk bisa tidur karena gatal akibat di taburi bubuk-bubuk di tempat latihannya. Entahlah, benar atau tidaknya, yang pasti, kita tahu, malaysia menang, dan indonesia kalah.

Hari ini, final digelar lagi, stadion gelora bungkarno akan menjadi saksi perlawanan para prajurit indonesia. Delapan puluh ribu pasang mata akan ikut menyaksikan, setelah di hari sebelumnya terjadi kekacauan di stadion karena penjualan tiket yang tidak profesional, yang mengakibatkan sebagian stadion mengalami kerusakan, namun terlepas dari itu semua, terlepas dari hampir dibatalakannya partai final di gelora bungkarno, indonesia telah siap bertanding, dan para suporter pun telah siap menjadi pendukung tim setianya ini.

Babak pertama dimulai, presiden dan ibu presiden, serta para pejabat menyaksikan acara ini secara langsung di tribun VVIP. Pluit di tiup, indonesia menyerang dengan garang, harapan menjadi juara kembali terbuka, tak lama terjadi pelanggaran dalam pinalti, indonesia mendapat bonus pinalti, harapan itu benar benar masih ada, kekalahan 3-0 kemarin rasanya akan terbalas malam ini. Firman mengambil ancang-ancang menendang, kali ini dia duel satu lawan satu dengan Fahmi, kiper terbaik malaysia. Fiman menendang pelan ke arah sudut kiri, dan fahmi pun dapat membacanya, maka dengan lugas, dan tangkas sekali, penuh dengan sensasi dan  aksi gaya yang mematikan, fahmi berhasil menjinakkan bom yang di tendang firman.

Semangat yang berkobar sejak peluit ditiup, mulai terlihat kendur karena kegagalan firman, dan tak lama kemudian di babak kedua malaysia melakukan serangan balik dengan cepat, lalu safee, striker muda malaysia itu mendribel, dan menendang bola, GOL!! Seisi stadion senyap, namun semua berduka, dengan gol ini, maka indonesia harus mencetak 5 gol, bukan mustahil, namun in berat. ’indonesia….indonesia…indonesia..’ suporter mulai menyemangati lagi, mulai dari aksi ahmad bustomi, lalu ke arah nasuha, dan GOL!! Satu-satu untuk indonesia…

Tak lama berselang, M.ridwan membawa bola, dan menendang, 2-1 untuk indonesia. Waktu telah menunjukkan menit ke 80, dan akhirnya kemenangan indonesia itu terhenti dengan waktu juga. Untuk final yang keempat kalinya, indonesia gagal meraih piala.

Apapun hasil yang kita dapat, banyak pelajaran yang kita ketahui, pertama dengan ini semua, rasa nasionalisme kita telah tumbuh kembali, semangat juang bersama membela bangsa kita telah bangkit, kita telah bersatu, tak ada lagi sriwijaya FC, persija, Persipura, persema, atau yang lainnya, semua suporter telah memakai kata satu, INDONESIA.

Para pemain pun telah bermain dengan sangat indah, tak ada kata menyerah, hingga detik akhir mereka telah berusaha maksima.

Para politisi, mereka tak butuh menang kalah, mereka hanya butuh nama mereka yang menggaung, tak peduli baik atau buruk, yang penting mereka menjadi berita, entah ada yang peduli atau tidak, yang penting mereka telah memberikan tanah, dan uang bonus tuk timnas agar terlihat memperhatikan kebangkitan bangsa, dari sini politik itu sangat pragmatis untuk mereka, semoga kedepan politik lebih indah.

Ternyata, kita tak bisa menang dengan cara instant, latihan hanya dua bulan, tidak bisa, kita tidak bisa lagi melakukan trik-trik instant seperti itu, perlu latihan yang intensif, lihatlah malaysia, yang berhasil menjuarai SEA GAMES tahun 2008, lalu masuk ke perempat final piala asia, dan sekarang menjuarai piala AFF, apakah mereka instant??tidak, sejak usia 16 tahun mereka sudah satu tim, barulah mereka bisa seperti sekarang. Jika kita mau juara, maka bentuklah kaderisasi yang matang.

Untuk para suporter, para pemain, para pembaca sekalian, dan terkhusus para pemuda, para mahasiswa, serta yang terhormat, para bapak-bapak politisi. Marilah kita lepas semua bendera club yang kita bela, mari kita lepas semua bendera partai kita, mari kita, mari kita lepas jaket-jaket almamater kita, lalu mari kita memakai pakaian yang satu, pakaian yang menyatukan kita, tuk membangkitkan bangsa, mari satukan tujuan, satukan misi, dan bangkitlah negeriku, harapan itu, masih ada.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: