Dani

Dokter muda..struggling to doctor..

dibalik kisah Sirkumsisi desa betung

pada 5 Agustus 2010

sirkumsisi
22 Januari 2010.
Desa Betung, Kecamatan Lubuk Keliat kabupaten Ogan ilir.
Ada apa di desa ini?? Heee…
Sebelumnya mari kita mengenal desa ini dulu,
Hari kamis saya berangkat dari Palembang pulang ke indralaya, ya waktu yang ditempuh dengan naik motor sekitar 45 menit, dengan kecepatan rata-rata 85-90km. sampai di indralaya pukul 14.00, sesampai dirumah saya langsung tidur, karena kecapek-an.
Sekitar pukul 17.00 saya berangkat ke Cinta manis, hm, jarak yang ditempuh pertama harus ke tanjung raja dulu, sekitar 30 menit dari rumah saya dengan naik motor kecepatan rata-rata 60-70km/jam karena jalan ini jalan lintas timur yang padat dan banyak berlubang sehingga harus hati-hati, lalu dari tanjung raja ambil jalur belok kanan nah disini ngk lama kok mungkin sekitar 15-20 menit dengan kecepatan rata-rata 100-120km/jam maklum jalan disini sepi, dan mulus.
Nah, esok harinya baru deh berangkat ke Desa betung.
Sunatan missal dilakukan di desa ini. Sekitar 30 peserta yang ikut, mulai dari yang belum sekolah hingga yang sudah sekolah (SD). Acara dimulai pukul 09.00WDL (waktu desa lubuk keliat, haaaa….)
Saya berkenalan dengan perawat-perawat disini, hm…. Rasanya kembali lagi ke sosialisasi yang murni dan tulus, yang dari dulu ku rindukan. Rasa kekeluargaan dan saling tolong menolong sangat kental, mereka bercerita bnyak, bercanda dan lain-lain, asal mereka pun macam-macam, ada yang dari kenten Palembang, ada yang dari lubuk linggau, dan lain-lain, yang semuanya berkumpul karena mereka bekerja disini. Ada yang menarik hati ngk??? Heee.. pertanyaan ini lucu. Tentu saja dimana-mana ada saja yang mengagumkan, tapi cukup itu nikmat Allah, sekali pandang saja!! Heeee… (kalo yang baca jangan salah paham ya, harap maklum, kan sebagai laki-laki normal tentu boleh mengagumi seseorang).
Pasien pertama masuk ruangan, hm…
Sebelumnya aku cerita dulu nih tentang sunatan missal ini.
Tempat sunatan massal seadanya, bahkan sangat prihatin.
Tempat di lakukan di dalam SD yang sangat reyot, tempat mereka berbaring hanya di atas meja belajar yang sudah reyot, tak ada bantal, bahkan dua meja yang di satukan itu tak sama tinggi. Sedih, dan prihatin!!!
Alat-alat kesehatan yang digunakan, kurang lebih telah mencukupi, tetapi saying sekali, tidak ada handscone (sarung tangan yang sering di pake untuk operasi). Sehingga para perawat dan bidan itu pun melakukan dengan tangannya. Bukan masalah infeksi, karena mereka membersihkan tangan mereka dulu dengan alcohol sebelum melakukan sunatan, tapi bagiku, memegang dan membersihakan genital adik-adik itu dengan tangan, behhhhhh……
Satu lagi deh aku tambahkan yang menyedihkan. Ternyata adik-adik yang disunat disini pun tidak mendapat hadiah, misalnya kain, duit, ato lain-lain. Kejam sekali kampanye kau pak!!
Tapi ada yang anehkan???
Kok tidak ada dokternya???
heeee…
Lanjut dengan pasien pertama.
Masuk dengan meronta-ronta. Dipaksa naik ke atas meja, tapi melihat semua yang berpakaian putih ini, ia menangis, dan tak mau disunat!!
Pasien ke dua masuk, dengan tenang, naik sendiri keatas meja, agak menjerit sedikit (sok hebat dia) ketika di suntik dengan ladokaine(sejenis anastetik local) sekali di pubis (intra muscular), kemudian anterior dan posterior genital (intra cutan), dan dekstra serta sinistra genital (intra cutan juga).
Setelah anastesi dirasakan, preputium mulai di dorong ke bawah, hingga glan terlihat, kemudian dengan alat sejenis gunting tapi agak bengkok (lupa namanya),diputar, sehingga dapat terlihat dengan jelas kotoran-kotorannya, setelah itu preputium di posisikan seperti semula, glan di dorong ke bawah, lalu preputium di klip dengan gunting lain (jangan sampai kena glan ya), lalu di potong deh preputiumnya.
Klip dilepas, kemudian dimulai heting (dijahit), pertama jahit dulu pembuluh darah yang mengeluarkan darahnya. Karena ini arteri bukan vena, ntar klo ngk di jahit dia jadi bengkak. Setelah pembuluh di jahit, baru dilanjutkan dengan menjahit semuanya. Tekniknya sama dengan mnjahit luka biasa, tapi bias juga beda. Ya teknik menjahitnya ada banyak, ada yang jahit satu-satu, dan ada juga yang sekali simpul lalu dilanjutkan jahit.
Pasien pertama sukses!!!
Dengan enam meja yang ada, langsung saja pasien2 yang lain melihat pasien pertama sukses dan tidak sakit, mereka naik dengan sendirinya, eh ternyata mereka mejerit sejadinya ketika di suntik. Memang saat disuntik itu sakit sekali kawan, dulu waktu kecil saat di sunat, aku mengalaminya, bahakan ayahku tak mampu memegangku, hingga wajahku ditutup dengan bantal, dan tanganku di pegang kuat-kuat. Termasuk kekerasan seksual ngk ya sunat seperti itu???haaa…. tapi walaupun mereka menjerit-jerit, tak ada yang seperti aku dulu. Hee,….
Jam 11 kurang, pasien sudah habis, banyak pelajaran yang di dapat hari ini.
1. Sirkumsisi dah bisa.
2. Politik itu sangat buruk, tergantung orangnya!!!
3. Sosialisasi dengan tulus sangat menyenangkan.
Eh, iya. Setelah shalat jumat, aku diajak makan dirumah salah satu perawat (lihatlah bahkan makanpun mereka tak dapat setelah sirkumsisi). Perawat dengan satu anak tunggal itu bilang, “aku kira kamu wartawan dek”, hee… mungkin ya, karena aku juga foto-foto sedikit.
“eh, dik%2


2 responses to “dibalik kisah Sirkumsisi desa betung

  1. arie tulang mengatakan:

    nama kakak siapa y??
    aku asli warga desa betung,tp bukan peserta sunat masal tersebut..
    waktu baca cerita kakak tentang desa Q tercinta sempat haru,cs desa ku memprihatinkan ya..
    hehehe.. tapi sekarang udah gak lagi kok..
    kapan2 main lagi y ke desa ku..
    mampir kerumah arie!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: