Dani

Dokter muda..struggling to doctor..

Pertarungan Batin sang Aktivis

pada 4 Agustus 2010

Sudah lama memang tak bertemu dan berhubungan dengan cinta. Sebenarnya dalam tiap sel dipikiran telah tertulis nama-nama yang aku kagumi, tapi semuanya tertutupi karena rasa cintaku pada Allah, kutitipkan semua cinta pada Allah, ku berdoa agar diberi cinta yang terbaik.

Tapi minggu ini berbeda.

Setelah status yang dikirimkannya berkali-kali itu, ternyata dilanjutkan dengan sms-smsnya yang membuatku semakin memikirkannya. Rasa rindu dan kenangan semuanya membuncah, tak dapat ku tahan. Perlahan dengan pastinya rayuan setan melenakan aku. Kuambil hanphoneku. Segera mengecek pulsa, Rp.20.059.pikiran kembali berputar, inilah kalau kita menggunakan pandangan akal, ya pandangan yang menipu, di hembuskan juga godaan oleh syetan yang mengembangkan pandangan nafsu. Pandangan akal dengan logikanya mengatakan ”apakah salah menelpon orang hanya untuk silaturrahim???” kemudian pandangan nafsu berteriak ”bukankah kau juga rindu??sesekali tak apalah”. Mereka bersatu menggoyah keyakinanku, penasehat yang selalu kita percayai kali ini kita lupakan, pandangan hati ”jangan akhi, ingat apa manfaatnya??pulsa habis??mengeraskan hati, malu dong pada Allah” begitu teriaknya. Sejenak perang batin dimulai, rasanya lebih berat dari perang dunia kedua, mereka saling mengadu argumen, tentu akal lebih pintar, dia mengatakan ”baik kalau begitu, kita telpon saja, ingat Cuma silaturrahim, dan ingat hanya sebentar”, ”sepakat!!!” semua berteriak.

Sebenarnya hati sudah tau, jika nafsu yang dihembuskan setan telah membuat rencana agar obrolan nanti menyimpang kemana-mana, dan tentu akan menjadi lama, maka ia mencoba berkata pada jiwa raga ini, ’akhi, ingat akhi, kuatkan hatimu, tentu akan banyak godaan nanti, tapi ingat akhi, ini hanya untuk silaturrahim, itu saja!!! Mengerti??’ tanyanya setengah berteiak. dengan terikan nafas yang dalam, ku yakinkan kekuatanku ”baiklah, ini hanya untuk silaturrahim, tidak lebih!!!’ teriakku dalam hati.

Tangan kanan menekan nomor terlpon yang dituju, dengan headset di telinga, sejenak nasyid yang didengar terhenti, berganti suara. Tuttt….. tutt……tutt…., sinyal berlari dari Sekip Madang palembang melewati Jembatan ampera, mengambil jalur kanan, terus hingga ogan ilir, tak kurang dari 38 km, kemudian memasuki lorong, masuk ke sebuah rumah, lalu dengan lembutnya masuk ke handphone sony ericcsson dan berubah lah bunyinya lagi.


Diujung sana, tempat sinyal yang penuh pertarungan itu terdengar bunyi dari handphone sang mawar, sebuah lagu nasyid yang merdu. ”….selama ini, kumencari-cari.. teman yang sejati….buat menemani…perjalanan ini…”.

Di sekip madang, hatiku mulai berdebar-debar, semakin sering suara tutt…tutt….tut… itu berbunyi, semakin keras debaran dadaku, ”apakah ini rasanya rindu??” hatiku bertanya pada semuanya, pada akal, pada nafsu, dan pada hatiku. ”hm… aku tak tahu, mungkin kau hanya gugup saja” teriak akal padaku, ”ah… masa’ kau tak tahu akhi dani, itulah yang namanya rindu, cinta yang tak tergantikan, siapalah yang tak rindu??” teriak nafsu padaku, ”iya, bisa jadi”teriak akal kembali menimpali, namun di sudut lain yang selalu ku kucilkan, sang hati berkata ”akhi, tak malukan kau??seorang mahasiswa Fakultas kedokteran, seorang aktivis mendengarkan ucapan mereka?? Dimana rasa malumu pada Allah, dimana rasa syukurmu pada Allah, karena Allahlah yang telah memberikan ginjal, jantung, dan akal itu, dan kini kau mau agar semua itu kau gunakan untuk memuaskan nafsumu??? Dimana rasa malumu???dimana hasil terbiyahmu selama ini??dimana jiwa aktivis mu???dimana rasa cintamu pada Allah??dimana rasa menghargaimu terhadap akhwat itu???dimana akhi??dimana??”

Hatiku tertegun mendengar nasehat hati yang selalu menyejukkan jiwa. Kembali kutarik nafas mencoba mengendalikan diri. Tak lama terdengar suara diujung sana.

”assalamualaikum” si Melati mengangkat telpon dan mengucap salam.
Suaranya merdu sekali, rasanya bacaarn quran syeikh assyudais kalah, suara nasyid senandung hikmah pun kalah. Jiwaku terbang mendengar kata-kata itu. Sekelebat perang batin pun terjadi lagi, nafsu mempengaruhi akal, dan akal setuju dengan nafsu, tapi kembali hati lebih menang, lebih mengendalikan jiwa. Kutarik nafas dan mengendalikan diri.
”waalaikumussalam warahmatulllahi wabarakatuh, Melati??”jawabku.
”ya, ini melati”
”apa kabar dik??”
Mulailah nafsu melancarkan jerat-jeratnya,mereka memang pintar sekali mengatur rencana menjerumuskan aku, dengan kata ”dik” itu menandakan bahwa masih tersimpan keakraban diantara kami, dan kali ini hal itu seperti menandakan bahwa aku sedang kehilangan keidealisanku. Sang hati berkata ”akhi, jangan terjebak, ingat ini hanya untuk silaturrahim”.

”alhamdulillah kak, baik, kakak???”.
Benarkan kataku, semua ini sudah diatur dan direncanakan oleh nafsu busuk itu, panggilan ”kakak” itu membuatku semakin terbang, semakin merasakan semai cinta, semai cinta yang indah, yang melupakan keindahan semua ciptaan tuhan. ”ingat akhi, apakah tega kau menyia-nyiakan semua amalmu, menghilangkan semua hafalan quranmu, hanya untuk ini??hanya untuk yang tak kekal??” kembali sang hati mengingatkan. Kembali lagi aku menarik nafas.
”alhamdulillah baik” singkat jawabanku.

Pembicaraan dimulai, setelah menanyakan kabar yang basa basi itu, pembicaraan dimulai dengan niat untuk silaturrahim, mulai bertanya tentang orang tua, keluarga, teman-teman, kemudian beralih ke kuliah dan benar saja semuanya perlahan menjadi tak teratur, hingga memasuki cerita tentang status-status yang ditulis, hubungan dia bersama pacarnya, dan bagaimana tanggapan pacarnya. Ketegangan diawal pembicaraan mulai beralih ke canda tawa. Perang batin tetap terjadi, namun kali ini setiap pembicaraan dan suaranya melati seolah menjadi senjata tambahan bagi sang nafsu, tak lagi ku gubris suara hatiku.

Sepuluh menit berlalu, namun rasanya kurang saja, nafsu telah mengendalikan kali ini, dia menang telak, bahkan sang akal yang mengkalkulasi pulsa yang dihabiskan tak berkutik dan tak kenal lagi untung rugi, akal pun mengatakan, ”kalau memang ini membuat dirimu lebih nyaman, kenapa tidak??kenyamanan itu mahal harganya, lebih mahal dari pulsa” teriaknya, terdengar sayup suara yang menyelinap ”akhi, ingat……” belum sempat dia berkata, ia telah hilang, seolah ku hilangkan dari pikiranku.

Tiba-tiba kakiku perlahan merasa sakiittt sekali, kulihat kakiku, sambil tetap ngobrol dengan si melati yang sekarang obrolan penuh dengan tawa dan canda. Ternyata kaki ini dihinggapi seekor nyamuk, perutnya telah buncit dipenuhi darahku, tak sanggup lagi ia terbang, dengan sangat egoisnya karena hati telah ku matikan, tanganku langsung melayang memecahkan perut sinyamuk, dan darahpun tercap di kakiku, sepintas akal tak bicara, dan nafsu semakin mengibas rasa rindu, dan mengumpulkan semua cerita agar semakin lama mengobro ini, tiba-tiba sambil si tangan memainkan nyamuk yang telah mati tadi, sang hati datang, ”akhi,lihatlah nyamuk itu”. Sedikit saja hati itu bicara, karena tak ku pedulikan dia. Tapi tiba-tiba kali ini sang akal mendukung sang hati ”iya ya, begitu muda kita membunuh nyamuk itu, awalnya tak terasa sakit ketika dia menggigit, eh tau-tau ketika dah sakit, sudah penuh tuh perut nyamuk”, jiwaku sedikit tersentak.

Hati kembali datang, ”lihat akhi, apakah kau sebesar nyamuk itu???bayangkan betapa mudahnya kau membunuh nyamuk itu, bagaimana dengan dirimu??dengan mudahnya Allah dapat mencabut nyawamu, kau ingat itu????ingat akhi, yang paling dekat dengan dirimu adalah kematian!!!bukan si Melati!!!”

Kali ini jiwaku kembali tersentak, Melati yang berbicara di ujung sana tak lagi ku pehatikan, jiwaku sibuk berpikir, dan gundah, perlahan nafsu menggoda kembali, ”alah, kau tu masih muda, mana ada yang mati, emang bisa mati karena nelpon???”. sang akal kali ini tak lagi diam ”akhi, ana ngk tau mati itu kapan, tapi ingat yang kau tonton di harun yahya kemaren??kita berapa di atas bumi, diatas tanah, dibawah kita terdapat lempeng yang masih muda, dibawah lempeng itu terdapat lahar yang sangat panas, yang membuat lempeng itu dapat bergerak dan retak kapan saja, seperti perahu yang berada diatas air, mudah sekali terombang ambing”, kali ini sang hati tersnyum, setelah tak kuhiarukan, kini dia yang aku cari, ”akhi, menurut pendapatku, walaupun kau tak mati muda, tapi yang akan ditanya adalah masa mudamu, kau gunakan untuk apa?? Dan ingat akhi, niat awalmu untuk apa???”

Tak terasa sudah 20 menit berlalu, diujung sana Melati masih berkata, tapi di sini perang batin terjadi lebih dahsyat, suara dike dikalahkan pemikiran sang akal, yang membayangkan bahwa diri ini tak lebih besar dari nyamuk itu, bahkan tak lebih besar dari zarrah jika dibandingkan dengan Bumi ini, apalagi jika dibandingkan dengan galaxi ini. dan dimana daya upaya kita??? Kemudian sang hati kembali mengingatkan bahwa tugas kita didunia ini adalah beribadah pada Allah.

Menit ke 23, suara Melati terhenti, saat yang tepat untuk menghentikan pembicaraan. Kali ini rasa sesal di jiwa karena tlah mengabaikan kata hatiku, dan rasa benci ku pada nafsu, tak lagi kuhiraukan dia, tak peduli sudah berapa minggu, berapa bulan aku tak bertemu Melati. Yang terpenting cukup sudah telpon ini itu saja.!!!

Menit ke 24 setelah diam sejenak, ”Ti, mohon maav ya, aku sudah ngantuk, jadi sudah dulu ya” tak lagi panggilan adik.
”o… iya kak”
Panggilan kakak itu kusimpan dan kembali melenakan.
”wassalamualaikum” niat hati sudah menguatkan jiwaku lagi.
”waalaikumussalam”jawabnya.
Jawaban itu membuatku tersenyum sendiri, merasakan dan kembali membayangkan wajahnya. Senyumnya, dan sebuah rasa yang ntah rasa apa ini, rasa yang membuatku terbang.

”istighfar akhi” kembali sang hati mengingatkan.
Aku hanya tersenyum malu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: