Dani

Dokter muda..struggling to doctor..

Ketika harapan itu mulai pupus, hanya Pada-Nya ku berharap

pada 4 Agustus 2010

Kini aku sudah kelas tiga SMA, penyesalan yang sangat dalam aku alami kali ini, semester pertama kelas tiga aku menjadi juara tiga di kelasku, cukup membanggakan memang, namun kekecewaanitu datang karena dengan peringkat tiga, membuat nilaiku jauh tertinggal ddengan juara pertama, hal ini membuat ku resah, karena juara pertama yang satu kelas ku itu merupakan orang yang memiliki cita-cita yang sama denganku, kami ingin masuk di fakultas kedokteran melalui Penelusuran Minat dan Prestasi (PMP).

Semangatku mulai hilang tuk mengejar nilai di sekolah, tak ada gunanya pikirku, sehingga sekedar saja aku mengerjakan tugas dan PR, sisanya aku gunakan sepenuhnya belajar mempersiapkan diri untuk ikut SNMPTN. Namun justru bukan malah ketinggalan di kelas, aku malah semakin menjadi orang yang paling paham pelajaran pelajaran di sekolah, semangatku semakin menjadi, tak pernah lelah setiap hari aku membahas dan membahas soal-soal persiapan SNMPTN, sedangkan Ujian Nasional, rasanya sudah di tangan saja nilainya.

Setiap harinya, saat istirahat pertama, waktuku kuhabiskan di mushala dengan delapan rakaat dhuha, dan <!–more–>ketika istirahat kedua kuhabiskan waktu dengan dzuhur dan membaca alquran, ini sudah ku mulai di tahun pertama sekolah, dan semakin gencar ketika kelas tiga.Saat jam istirahat kedua di sekolah, aku shalat dzuhur di masjid sekolah agar dapat langsung ke Palembang ketika pulang sekolah, disana adalah suasana yang sangat tenang bagiku, disinilah aku shalat dhuha dan dzuhur setiap harinya, aku memohon pada tuhanku, “duhai ilahi rabbi, jadikan hamba lulus di fakultas kedokteran, sesungguhnya tak ada yang mustahil jika itu kehendakmu” itulah yang aku ucapkan tiap saat dalam sujudku, doa yang aku ucapkan saat shalat dhuha maupun dzuhur mulai dari kelas satu hingga saat ini aku sudah kelas tiga, tak berubah doa itu, hanya satu saja dalam sujudku, dan cukup itu menujukkan keseriusanku, dan tak ragu aku meminta.

Aku sudah mendaftar bimbel di Palembang, tiga kali dalam seminggu aku menempuh perjalanan tak kurang dari satu setengah jam, dari ogan ilir menuju Palembang hanya untuk menambah ilmuku. Satu setengah jam merupakan waktu yang cukup lama. ketika naik ke bus kota yang sudah reyot itu, aku mulai membuka kitab yang sedari tadi aku tenteng dengan bangga, aku menenteng al-quran ditanganku, ketika di bus, sembari menunggu berangkat, aku membaca al-quran beberapa halaman, dengan suara yang lembut dan khusuk, kemudian ketika bus berangkat, dengan suara music yang keras dan tak goyangan yang keras tak memungkinkan aku tuk melanjutkan membaca alquran, maka aku bertasbih dengan jemariku, hingga aku terlellap dalam tidurku.

Sesampainya di Palembang, aku sempatkan shalat ashar terlebih dahulu di masjid Agung, masjid kebanggaan masyarakat Palembang, masjid ini nyaman sekali, gentingnya berwarna hikau, sajadahnya sangat empuk untuk bersujud, bersih, dan harum, sehingga aromanya membuat ku tenagn tuk berdoa. Doaku tak berubah dalam sujudku, itu-itu saja yang aku ucapkan. “duhai ilahi rabbi, jadikan hamba lulus di fakultas kedokteran, sesungguhnya tak ada yang mustahil jika itu kehendakmu”.     Ketika pulang dari Bimbel, sekali lagi aku mampir di masjid Agung, lalu shalat maghrib tak berubah doaku dalam sujudku “duhai ilahi rabbi, jadikan hamba lulus di fakultas kedokteran, sesungguhnya tak ada yang mustahil jika itu kehendakmu” kemudian aku membaca beberapa lembar alquran, lalu kulanjutkan lagi langkah kaki tuk pulang kerumah menaiki bus yang kadang sudah bus terakhir menuju kabupatenku Ogan ilir. Beginilah kondisi bus trakhir, selalu penuh, dan ketika ada ibu-ibu yang naik, maka aku lah yang harus berdiri, mempersilahkan mereka duduk, ini kesempatanku meraih cinta rabku, itu pikirku.     Sampai di indralaya, ogan ilir, kembali aku menuju masjid, tuk shalat isha, disini tak berubah doaku dalam sujudku “duhai ilahi rabbi, jadikan hamba lulus di fakultas kedokteran, sesungguhnya tak ada yang mustahil jika itu kehendakmu”.
<img src=”http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs159.snc1/5940_1145641535320_1655974294_371513_2555509_n.jpg&#8221; alt=”” width=”430″ height=”323″ />

Selesai shalat, langsung saja aku menaiki angkot dan pulang kerumah. Sesampai dirumah setelah mandi dan makan, langsung aku istirahat, bersiap di malam hari tuk berdoa pada rabku, tahajjud dan mengadu, setiap malam setelah kelas tiga aku shalat tahajjud, delapan rakaat dengan tiga witir setiap malamnya, dan setiap sujudnya aku berdoa “duhai ilahi rabbi, jadikan hamba lulus di fakultas kedokteran, sesungguhnya tak ada yang mustahil jika itu kehendakmu”. begitulah kegiatan yang aku alami dulu setiap harinya, meminta pada rabku, meraih cintanya, jika dia cinta maka apapun yang kita inginkan tak ada yang mustahil lagi.     Beberapa bulan sebelum UN, Try Out dimulai, saat itu tak kurang dari enam ratus siswa seluruh kota Palembang yang ikut. Soal dengan seksama kami kerjakan, sebuah harapan menjadi juara pertama ada dalam benakku, merupakan kebanggaan jika aku yang berasal dari Kabupaten kecil di dekat Kota Palembang ini dapat menggemparkan kota Palembang.     Tak lama berselang soal sudah dilahap puas, dan pengumuman telah tiba, satu persatu juara dipanggil, mulai juara harapan ketiga hingga juara pertama, setiap saat nama-nama juara itu dipanggil harapanku semakin pupus, tak ada namaku yang mereka panggil, aku tidak kecewa, namun aku sedih, ternyata aku bukan apa-apa disini, segera aku melihat papan pengumuman dimana peringkat seluruh peserta ditampilkan.     M. Ali Arma dari SMAN 1 Indralaya Peringkat 112. Itu yang tercantum disana.

Tubuhku lemas, ini baru di Palembang, dengan enam ratus orang yang ikut, dan aku peringkat seratus dua belas, sedangkan SNMPTN tahun kemaren Fakultas Kedokteran Unsri dengan peminat lebih dari dua ribu orang tidak lebih dari enam puluh orang yang diterima, aku sedih, aku terhanyuk bagaimana aku dapat lulus dengan kemampuan ini.     Try out kedua dimulai dilangsungkan oleh sebuah bimbingan belajar yang sudah terkenal secara nasional, tak kurang dari tujuh ratus orang yang mengikuti ujian ini. Seperti sebelumnya aku menjawab dengan seksama dan dengan khusuk, waktu dua jam itu terasa singkat saja.     Kali ini dengan kemampuan baru, aku berharap hasil yang lebih baik, masuk sepuluh besar adalah harapanku. Seperti biasa juara harapan tiga sampai juara pertama dipanggil, dan kali ini namakupun tak dipanggil. Aku sedih, sekali lagi aku terhenyuk, sudah maksimal aku mempelajari materi-materinya, namun sekali lagi namaku tak dipanggil, aku berjalan menuju sebuh papan pengumuman tempat ditempelnya nama-nama juara, kali ini aku cukup senang melihat namaku ada di halaman pertama, M. Ali Arma dari SMAN 1 Indralaya juara Sembilan.     Harapanku mulai membuncah untuk bias lulus di fakultas kedokteran melalui jalur SNMPTN, namun keraguan itu tetap saja ada, ketakutanku tetap saja ada, ini try out di Palembang, bukan nasional, sedangkan Fakultas kedokteran Universitas Sriwijaya (unsri) merupakan fakultas yang cukup diminati.Semangatku kembali terbakar, mengucap takbir, Allahuakbbar, mengazamkan aku akan lulus di fakultas kedokteran unsri.

Formulir PMP dari Universitas Sriwijaya belum juga datang kesekolahku, dari dulu aku sudah bilang pada guruku, “bu, aku ingin masuk FK UNSRI”, sehingga ketika datang formulir dari universitas lain, aku tak peduli, ku biarkan semua teman-temanku rebutan mengambilnya. Sebenarnya ada satu tawaran yang cukup menggiurkan bagiku saat itu karena mungkin aku lelah menunggu PMP, namun akhirnya keteguhanku pada pendirianku,menyelamatkan aku. Saat itu datang tawaran seleksi beasiswa ke Malaysia di kabupaten Ogan ilir, tak pernah ada beasiswa seperti itu sepanjang usia sekolah ini.

Impianku tuk kuliah diluar negeri muncul, apalagi dengan perkiraan para guru saat itu tak kurang dari Sembilan puluh persen aku dapat lulus, karena nilaiku mendukung dan kemahiran bahasa inggrisku tak kalah baiknya.     Formulir itu ku foto kopi, karena memang semua siswa yang memenuhi syarat boleh mendaftar, nanti baru dilakukan seleksi di kabupaten ogan ilir. Ku bawa pulang formulir itu, saat itu aku kumpulkan ayah, ibu, kakak, dan ayuhandaku, yang ku anggap semuanya harus ambil andil dalam keputusanku. “kalo bapak, terserah kau nak” itu jawaban ayahku, dan ayuhandaku sepakat saja dengan ayahku. “menurutku dak usah dan, kau dak tahu kan kuliah di universitas apo, trus kau gek ditempatkan sesuai dengan fakultas yang dibutuhkan, bukan pilihan kau, tetap focus dan, itu be menurut ku” itu jawaban kakakku, yang memang dialah salah satu orang tempatku selalu meminta pendapat, “iyo nak, kalu menurut ibu, ibu dak setuju, ntahlah, ibu dak paham, tapi rasonyo ibu dak rela kau ikut” jawaban ibuku mendukung jawaban kakakku, mendengar jawaban mereka aku tenggelam dalam doaku selama ini, “duhai ilahi rabbi, jadikan hamba lulus di fakultas kedokteran, sesungguhnya tak ada yang mustahil jika itu kehendakmu”.     Satu keputusan dari musyawarah telah aku dapatkan, kini tinggal aku yang memutuskan, maka malam itu aku shalat istikharah, memohon petunjuk pada yang maha merencanakan, agar apa yang aku pilih nantinya adalah pilihan terbaik dari rabku, dan dalam sujudku aku teteap berdoa “duhai ilahi rabbi, jadikan hamba lulus di fakultas kedokteran, sesungguhnya tak ada yang mustahil jika itu kehendakmu”. Namun kali ini aku tambahkan, “ya rab, apa maksud beasiswa ini, aku mohon petunjukmu, berikan aku keputusan yang terbaik”.

Di pagi harinya, formulir itu kutatap sekali lagi sebelum ku robek, entah mengapa, rasanya aku yakin doaku akan di ijabah oleh rabku, akan dikabulkan nantinya, dan aku tak ingin menyia-nyiakan usahaku selama ini, dan kuharap agar ini hanyalah cobaan, karena ku yakin setelah kesulitan aka nada kemudahan.     Ternyata benar, sang juara kelas yang nilainya mengalahkan aku ikut ambil bagian disini, dia mengikuti seleksi beasiswa ke luar negeri ini. Aku tersenyum, nilainya yang bagus sudah sewajarnya mengikuti tes ini, bahasa inggrisnya pun jauh lebih baik disbanding diriku, jika aku hanya Sembilan puluh persen, maka dia berkesempatan lebih dariku, Sembilan puluh lima persen mungkin.     Kini sudah sebulan dari seleksi itu, dan sekarang Formulir PMP dari Universitas Sriwijaya sudah datang ke sekolahku, ada sebuah hal menarik disini, tangan tuhan!!! Tangan tuhan benar-benar bermain disini, aku tak henti-hentinya bersyukur pada ilahi rabbi. Dewi, juara kelas itu ternyata dia lulus seleksi tahap pertama, dan dia akan memasuki seleksi wawancara, dan di seleksi ini tak kurang dari Sembilan puluh persen dia akan lulus. Lalu inilah permainan ilahi rabbi, “wi, giman??kamu masih mau ngambil FK UNSRI??” Tanya guruku padanya, didepanku, namun dengan penuh rasa hormat, maka aku permisi dulu, tak ingin aku mendengar jawabannya nanti, tak ingin aku menjadi kecewa, aku hanya ingin focus, dan aku yakin ilahi rabbi mendengar doaku yang telah lalu “duhai ilahi rabbi, jadikan hamba lulus di fakultas kedokteran, sesungguhnya tak ada yang mustahil jika itu kehendakmu”.

Ketika pemilihan jurusan kami dikumpulkan di satu ruangan, kami diberikan penjelasan untuk mengisi formulir PMP ini, sebelumnya sudah berulang kali aku bertanya pada orang tua dan keluargaku, serta aku sudah istikharah sebelum menentukan pilihan ini, “bu, ayah, kakak, dan ayuhanda, masuk FK membutuhkan biaya yang besar, apakah benar kita sanggup???” itu yang kutanyakan dengan penuh rasa haru dan tetes air mata, ayah dan keluargaku menjawab tak jauh berbeda “uang, itu urusanku, bukan untuk kau pikirkan, kerjamu, BELAJAR!!!” itu jawaban mereka. Maka hari ini aku tak ragu, aku pilih satu pilihan, aku pilih Fakultas kedokteran Pendidikan dokter umum, dan pilihan kedua, tak aku isi. Penuh harapan pada rabku aku berdoa, dan aku yakin, usahaku selama ini tak mungkin disia-siakan, kalaupun tak lulus, maka ada yang jauh lebih baik yang disediakan rabku.     Dewi, sang juara kelas yang baik hati, ternyata benar-benar sahabatku yang paling baik, dia memilih jurusan yang berbeda denganku, dia memilih jurusan kedokteran gigi, itupun karena tak ada yang memilih jurusan itu, dia tak mau menyakiti hati kami, diapun sudah yakin Sembilan puluh persen bakal kuliah di luar negeri, sekali lagi aku bangga pada sahabatku itu, dia benar-benar gadis yang shalehah, pintar, dan cantik serta baik hati.

Kini doa-doaku didengarkan sang pengabul doa, sang pemilik alam semesta, doaku “duhai ilahi rabbi, jadikan hamba lulus di fakultas kedokteran, sesungguhnya tak ada yang mustahil jika itu kehendakmu”, kini telah dibayar lunas, dan lebih dari itu, orang tuaku menjadi bahagia sekali, tak hanya saat perpisahan namaku yang satu-satunya laki-laki yang mendapat PMP disekolahku itu disebut, tapi juga seluruh alam raya dapat melihatnya, M. Ali Arma lulus di fakultas Kedokteran universitas sriwijaya, begitu tertulis di halaman Koran terbesar di sumatera selatan. Inilah janji rabmu, sesungguhnya dia mendengar setiap doa hambanya, dan kini aku sudah kuliah di fakultas kedokteran yang aku impikan ini. Tetaplah berdoa, dan yakinilah kekuatan doa, karena pintu-pintu langit akan terbuka dengan berdoa, dan didoakan. Semoga kisah ini bermanfaat. Amin.


5 responses to “Ketika harapan itu mulai pupus, hanya Pada-Nya ku berharap

  1. Anex curut mengatakan:

    tetap semangt brada.hehe

  2. mamakumeri123 mengatakan:

    aku pengen bisa masuk di Unsri kedokteran🙂
    Amin🙂

  3. olive mengatakan:

    harus bisa masuk akuuu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: