Dani

Dokter muda..struggling to doctor..

Catatan sejarah Mimpi para bintang

pada 4 Agustus 2010

Mentari baru keluar dari peraduannya, menghiasi langit yang memerah pagi itu, indah sekali, sambil tersenyum, ia melepas cahyanya keseluruh negeri, membawa kehangatan dan kedamaian, cahyanya membawaku terhanyut melintas waktu yang baru kemarin rasanya ku alami, waktu disaat kelelahan menjadi sahabatku, keringat menjadi parfumku, dan kegagalan tak kenal lelah menemuiku. Ku tapaki jengkal jengkal kota itu, Satu kilometer kakiku menjajal jalan utama kota pempek itu setiap hari dengan semua aksesorisnya. Ku tapaki tangga penyeberangannya menikmati suasananya, sambil menahan aroma, dan teriakan buskota yang berada tepat dibawahnya, ku lihat jembatan AMPERA itu dari sini, entah, aku senang sekali memandanginya. Perjalananku terus kupacu hingga mentari mencoba memanggang tubuhku, hingga tiba di Primagama tempatku menimba ilmu. Begitulah aku, dengan ditemani sebotol air mineral yang aku bawa dari rumah sebagai oaseku, ku lalui perjalanan itu setiap hari.

Saat itu aku menetap dikota Palembang, merasakan kekumuhan rumah susun. Bersama kedua sahabatku taufik dan dona, kami tinggal di lantai satu tepat dibelakang Palembang Indah Mall, kami baru lulus SMA dan megikuti intensif saat itu, dengan bermodal mimpi dan cita-cita kami ingin meraih gelar mahasiswa. Dona anak pedagang yang biasa saja, taufik pun begitu, ayahnya hanya penjual minyak di tempat kami, sedangkan aku, aku anak PNS golongan rendah, sehingga tak cukup rasanya untuk kami menyewa rumah di Palembang, meninggalkan daerah kami tercinta Ogan ilir.

Entah Apa yang kami pikirkan, kami sadar keluarga kami kurang mampu, namun entah kenapa kami tetap ingin kuliah dan meraih gelar mahasiswa itu, gelar yang selalu kami impikan dari dulu. Kami bimbel ditempat berbeda, aku di Primagama, taufik di Alumni, dan dona di nurul fikri, tiga tempat berbeda. Dan kami tinggal di satu atap ini,sebenarnya ini rumah pamanku yang kosong dan untuk sementara tidak ia sewakan, hanya untukku, dan teman-temanku

“dak usah kawatir duit sewo rumah, tinggal be di rumah mamang yang disitu kalu kau gala’ ” katanya saat ku meminta pendapatnya.

Ini petualangan baru kami, Kami merasakan perjuangan yang sebenarnya!!!! teringat sebuah kata dari Ibunda Neli, guru bahasa inggris yang selalu memotivasi kami di SMA “jika kalian ingin sukses, maka keluarlah dari comfort zone!!!!”. Senyum mengembang dalam hatiku, inilah awal sukses itu, teriakku dalam hati, diamini oleh panasnya cuaca Palembang saat itu, ku sadari, semakin berat ujian, maka semakin besar sukses yang ku raih, karena aku yakin, ini adalah tempaan tuhan pada kami, bukankah sebelum menjadi berkilau, emas itu pun melalui panas dan dingin???bukankah setelah kesulitan akan ada kemudahan???? aku tersenyum sendiri.

Sang fajar mulai tampak, Ketika burung wallet keluar dari gedung-gedung tinggi dipimpin komandannya masing-masing, kami bertigapun pergi bersama keluar dari rumah, melintasi bapak-bapak becak yang sudah siap dengan becaknya, para pedagang asongan dengan beraneka ragam masakannya, penjajak Koran yang sudah membungkus korannya dengan rapi, sambil bercanda kami melewati jalan-jalan yang kan menjadi catatan sejarah bagi kami, hingga di jendral sudirman kami berpisah, taufik dan dona naik bus, sedangkan aku jalan kaki, jarak bimbelku memang yang paling dekat , di depan pasar tradisional cinde, sedangkan dona di depan Rumah sakit Muhammad hoesin, dan taufik tak jauh dari sana. Bukan murah bimbel disini. tak kurang dari enam ratus ribu rupiah yang dikeluarkan ibuku, sedangkan dona, tak kurang dari lima ratus ribu, aku sendiri yang menemaninya membayar uang administrasi.

“jangan takut li, ini akan kau bayar, kau bayar dengan suksesmu!!!yakinlah akan hal itu saudaraku!!!” kata dona saat kami mendaftar, dia mungkin menangkap pikiranku saat itu, dona-lah yang merencanakan ini semua untuk kami, buku-buku yang dia baca membuka pikirannya, sedangkan bagiku, belajar itu sama saja, di desa atau di kota itu sama, namun dengan tegapnya dona berkata “ali, mungkin ikan gabus di sungai sudah besar!!! tapi, coba bandingkan di sungai musi, jauh lebih besar!!!bandingkan di laut!!! Liatlah dunia, liatlah dunia luar li!!!” jawaban dona membuka pikiranku.
Setiap hari hanya dua sampai tiga jam belajar di bimbel. “li, kau di sini beh, biar makin banyak ilmu kito” kata-kata dona saat dia menemaniku mendaftar disini.

Aku coba bertahan, terbiasa dengan keadaan disini, kadang aku masuk lebih dari satu kelas. keakrabanku pada guru-guru, membuatku mendapat perlakuan yang berbeda, dan setelah pelajaran, tiap hal yang tak ku pahami segera ku tanyakan. kecemerlanganku membuatku mendapat banyak teman, membuat mereka segan padaku, padahal aku tak tahu apa yang harus mereka segani dari diriku yang tak punya apa-apa ini, benar-benar pengalaman yang sangat unik dalam catatan hidupku.

Di rumah yang sempit dan sangat panas itu, kami bertiga menetap dalam ruangan yang sama, dengan dua buah kipas yang terus berputar melegakan kulit kami yang kepanasan, dan sebuah radio yang menyala, kami membahas soal-soal yang ada. Aku, dona, dan taufik terpekur dalam kekhusukan masing-masing, dengan sesekali dona berteriak menyayikan lagu-lagu yang ada di radio, suara dona memang bagus menurutku, tak salah seandainya dia menjadi penyanyi suatu saat nanti, sedangkan taufik kadang membuat lelucon sesekali, membuat kami terbahak-bahak. Jika ada yang tak dipahami kami saling mengajari, inilah buah hasil dari bimbel yang berbeda, semakin banyak ilmu yang kami dapat. Ketika waktu shalat tiba, kami berangkat ke masjid bersama, shalat di masjid rasanya menjadi tempat mengadu yang paling mujarab bagi kami, mengadu pada tuhan, mengadukan semua impian kami, mengadukan keinginan agar kami diberi kelulusan untuk menebus pengorbanan orangtua kami.

Di pertengahan malam, para pejuang itu bukan malah terlelap, namun semakin menyala!!! Dona orang pertama yang bangun, kadang jika dia tak bangun, aku dan taufik pun tak akan bangun. Dengan sabar dona membangunkan kami, kami tahajjud, tadarrus quran, belajar hingga subuh, setelah itu kami olahraga pagi dengan menghirup udara Palembang yang sudah tercemar, bagian ini bagian taufik, dia \menjadi pemimpin kami di setiap kegiatan, mulai makan, pergi ke pasar, pergi ke PIM, dan lari pagi, kadang kami lari ke Benteng Kuto Besak (BKB), kadang ke Gelora Sriwijaya, menyeberangi jembatan AMPERA atau keliling keluar masuk lorong yang entah kemana tujuannya, dan itu semua taufik yang berencana.

Hingga suatu pagi saat olahraga, saat detik-detik SNMPTN semakin dekat, kami melewati percetakan yang tak jauh dari rumah kami,

“li , cakmano kalau kito lulus galo, agek kito foto bareng, kito cuci satu kali satu meter!!!”kata taufik.
“yang bener fik,”dona menimpali,
“aku setuju fik, sekalian begh, kito masuk-i jembatan ampera, trus di bawahnyo ada rusun kito, haaaaa” aku menimpali,entah kenapa aku kagum sekali dengan jembatan ampera, sudah puluhan bahkan ratusan kali aku berfoto dengan latar jembatan kebanggaan kami itu, dan aku tak pernah bosan.

Kemudian suasana sedikit senyap, kami sadar perjuangan akan segera ditentukan beberapa hari lagi, kami terdiam dalam renung mengingat semua cita-cita kami yang telah kami tempelkan di ruangan belajar kami, yang sudah menjadi impian kami sejak SMA.

Sambil menggenggam tangan dan melontarkannya ke atas, taufik bersemangat menggelora“ Li, aku akan lulus di tambang ITB!!!!” teriak taufik pada alam, sudah seperti pejuang 45 saja dia.

Dona tak mau kalah “aku akan masuk EKONOMI Universitas Indonesia, itu sumpahku!!!” teriak dona,
aku paham semangat mereka begitu menggelora, taufik melihat ayahnya seorang penjual minyak, dan telah belajar banyak tentang minyak, dan negeri ini kaya akan minyak yang di curi bangsa tak beradab itu, dan dona, adalah anak pedagang yang religius, dia paham prinsip ekonomi mulai liberal hingga islam, dia telah membaca ratusan jurnal ekonomi, mungkin dialah menteri ekonomi yang akan datang, dan aku, aku tak paham dengan cita-citaku, apa yang merasuki jiwaku saat itu,

“AKU AKAN MASUK KEDOKTERAN,AKU AKAN JADI DOKTER!!!!” teriakku penuh semangat, dengan kepalan tangan keatas kami berjejer menatap mentari, seperti actor di film-film saja kami ini. Teriakan kami memecah keheningan pagi, seluruh malaikat mengamini, dan pohon-pohon seakan tersenyum, kicau burung seolah mendukung teriakan kami, dan geliat kota Palembang mulai bergerak cepat seolah merasakan semangat kami.

Pagi baru dimulai, mentari masih mengintip, tak mau mengganggu embun-embun yang masih menyelimuti rumput-rumput yang mulai menghijau, namun ketiga bocah ini sudah rapi dengan mimpinya. Dona mengenakan baju kemeja biru bergaris saat itu, tampan sekali, jika menjadi manager perusahaan besar, sangat pas penampilannya. Taufik tak mau kalah, dengan baju cream kesukaannya, dia menata rambut keritingnya, tak kalah tampan dengan dona, dan terakhir aku, dengan kemeja putih aku berusaha bersikap tenang, seolah akan segera menghadapi operasi pagi itu. Ya hari ini hari pertama perjuangan kami.

Kami berangkat bersama menuju tampat ujian. Hari ini kami tampil istimewa, kami tampil dengan keistimewaan mental kami yang sudah kami siapkan dengan tahajjud dan khatam quran semalam,taufik yang merencanakan agar kami khatam membaca Al-Quran tepat malam hari sebelum ujian SNMPTN. Dengan gagah, dan mantap, kami berpisah memasuki ruangan masing-masing, kepercayaan diri dan doa dari kedua orang tua seolah menjadi senjata tambahan bagi kami yang tak dimiliki semua orang pada hari itu.

Dua hari SNMPTN dilaksanakan, semua telah kami lalui, soal-soal yang mudah hingga sulit sudah kami libas. kini kami akan kembali, pulang ke orang tua kami di ogan ilir. Semua barang telah kami bereskan dalam kardus masing-masing. Taufik, dona, dan aku berpelukan sebelum kembali ke rumah masing-masing.

“semoga kita sukses!!!” taufik menutup kata sambil kami masih berangkulan dan berjabat tangan, “amin” jawab kami.

Kami kembali di rumah, sembari menunggu hasil SNMPTN, dona kembali membantu kedua orang tuanya berdagang, sedangkan taufik, kembali membantu ayahnya mengangkat derigen-derigen minyak dan gas elpiji, sedangkan aku, aku kembali ke rutinitas mengurus adik-adikku, dan menjaga rumah, sambil sesekali menyiangi rumput dan mengurus tanaman yang mulai tak terurus sejak aku pergi.

Kini aku, taufik dan dona sudah lama tak bertemu entah bagaimana rupanya saat ini, apakah mereka masih mengingat kisah ini. Ku ingat, pagi itu mentari masih belum menampakkan diri, aku, taufik dan dona sudah berada di jalan lintas timur km.36, di depan SMA kami, dibawah Plang SMA N 1 indralaya, kami berdiam duduk bertiga disana, sambil berdoa menunggu tukang koran yang biasa lewat.

” li, kito ketemu di depan SMA besok, jam 5.30, ba’da subuh!!! Akan lebih seru rasanya” jawab dona ketika aku bertanya tentang pengumuman SNMPTN, “aku setuju!!!ini akan menjadi sejarah kita li,dan apapun hasilnya, ini sejarah kita bersama SMA kita!!!”jawab taufik.

Tak kurang dari sepuluh menit kami menunggu, dibawah plang nama SMAN 1 Indralaya kami duduk bersama, membayangkan yang akan terjadi pada kami,

“kalu aku lulus, banyak barang yang dijual Li!!!” taufik mengawali pembicaraan, “mulai dari motor, emas ibuku, dak tau apo lagi” lanjutnya.
“aku jugo fik, mungkin tanah warisan di dusun tanjung seteko itu dijual bapakku, apo kito ni zalim fik, dengan wong tuo kito??” ”dona menimpali.
aku terharu mendengar kata-kata mereka, pendidikan dengan beasiswa itu hanyalah mimpi, dulu waktu SMA kami sama sekali tak tahu ada seleksi beasiswa daerah, dan ternyata sekarang tiba-tiba sahabat kami anak pejabat itu mendapatkannya, entah apa yang ada di dunia ini, aku tak paham!!
“tenang be kance, gale-galenye sudah ade dilauhul mahfudz Allah Swt!!!Dialah yang akan memberikan yang terbaik untuk kita” jawabku, seolah aku tak bersedih jika ayahku akan mengambil pinjaman di bank yang mesti ia bayar dengan memotong gajinya seumur hidup jika aku lulus, hatiku perih menahan kenyataan ini, namun siapalah yang akan menguatkan kami, jika tidak kami sendiri, kami berangkulan, menenangkan hati kami, dan tak terasa air mata kami menetes sambil memandangi rembulan yang masih ada sisanya.

Dari kejauhan terlihat sepeda ontel menuju kearah kami, sepedanya dipacu pelan didepan kami seolah ia tahu kami menunggunya,dia penjual Koran di daerahku, namun pagi ini lagaknya seperti pahlawan yang sudah ditunggu saja kehadirannya, bahkan lebih dari pahlawan.
“assalamualaikum!!! Apo kabar galo-galo??? Sehat???” kak johan membuka percakapan,
kami bertiga langsung berdiri siap menghadang perjalanannya,ia turun dari sepedanya,dan kami sujud-i tangannya.

“kak jo, tolong Korannyo ye sikok” kata taufik.
Ku keluarkan uang ribuan untuk membayar Koran itu, namun kak johan menolaknya
“dak usahlah, dak usah di bayar, aku tahu, kamu ni kebanggaan wong kito, kamu ambek beh Koran ni, nah men kamu lulus, jangan lupo tetap ibadah dan bersyukur pada Allah” kak johan memahami perasaan di hati kami, taufik dan dona tersenyum, sambil mengusap kedua air matanya yang menetes menatap kami, dia rangkul kami semua, dan kak johan pun berlalu kembali dengan mengayuh sepedanya.

Di bawah plang SMAN 1 Indralaya itu, tak dapat kubayangkan lagi saat-saat indah itu, saat kami membuka Koran, mencari nama kami diantara ribuan nama, saat tetes haru air mata kami jatuh perlahan lahan, saat doa-doa kami dijamah tuhan dengan kontan,tanpa ada yang Ia lupa.
Jari telunjuk taufik yang hitam menjadi penunjuk kami, halaman pertama sudah habis kami lewati, namun nama kami tak juga kunjung ada. Kami istirahat dan duduk termenung lagi, kami tutup Koran, karena masih ada dua halaman lagi, hati kami sedih, sedih membayangkan jika tak lulus kata maaf apa yang kan terucap pada kedua orang tua kami, bagaimana membayar semua pengobanan mereka, bagaimana nasib cita-cita yang telah kami gantungkan dilangit yang mulai memerah pagi itu.

“sabar ye dulurku, kalu memang namo kito dak ado, yo apo boleh buat, tuhan ado jalan lain, ingat kato kak nizar?? Mentor kito itu ngomong, ‘yang terbaik menurut kita, belum tentu menurut Allah, dan sebaliknya, semua ada hikmahnya’ ” dona mencoba menenangkan hati kami, ia tahu kami tenggelam dalam kesedihan, aku meneteskan air mata, aku memang paling cengeng diantara mereka.

Halaman kedua kami buka, tak jauh dari atas tertulis sebuah nama yang indah sekali, taufik yang membacanya duluan “taufik indra kharismatullah, alhamdulillah” taufik berkata pelan seolah tak terjadi apa-apa, seolah itu bukan namanya, tapi Itu benar nama taufik, setelah mencocokkan nomor ujian, kami yakin ini taufik, ya, taufik lulus di Fakultas teknik, teknik pertambangan ITB seperti yang ia teriakkan pagi itu, namun taufik tak mau terlalu senang, dia tahu, kami dalam kecemasan, dan dia tak ingin melihat kami kecewa. aku dan dona mengucapkan selamat, kami terharu, aku meneteskan airmataku, airmata penuh rasa bangga pada sahabatku itu, sahabat yang telah membagi semangatnya padaku.

Jemari taufik mulai melangkah lagi, melintasi halaman kedua kolom terakhir, dan sampai saat ini namaku dan dona belum juga ada. tiba-tiba dibagian kolom terakhir itu, agak dibawah memang, tertulis nama calon menteri keuangan itu, menteri keuangan Indonesia masa depan. “dona” singkat saja taufik menyebutnya, karena itulah nama lengkap dona. Setelah memastikan nomor ujiannya, ternyata benar itu nomor dan nama dona, dona lulus juga, lulus di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, fakultas yang sangat bonafit lagi-lagi seperti doanya pagi itu. Namun dona sama seperti taufik sebelumnya, dia tahu perasaanku, aku ucapkan selamat pada dona, kembali aku terharu air mataku yang kedua kalinya menetes membasahi pipi, menetes karena bangga pada sahabatku.

Halaman kedua sudah habis, tinggal halaman terakhir, aku semakin menunduk, membayangkan diriku yang tak mampu membayar kerasnya pengorbanan ayah dan ibuku, menangisi kebodohanku yang tak dapat memberikan hadiah pada keduanya, hadiah kebanggaan. Aku duduk di belakang melipat tanganku menutupi mataku yang basah dengan air mata.

“fik, tolong kau lihat ye, aku dak sanggup liat Koran itu, kalu ado namo aku, kasih tahu, kalu dak ado, yo sudah, aku ikhlas fik, hiks..” sambil menangis aku terpekur sendirian di belakang sambil menyender di tiang di bawah plang SMAN 1 Indralaya, dona berusaha menghiburku, menceritakan kisah-kisah penyemangat, sama seperti saat aku gagal menjadi juara MTQ saat itu.

“ingat lur, tuhan itu ado rencana masing-masing, sabar beh, kan belum selesai halamannyo”katanya

Taufik kembali menelusuri Koran itu , sedangkan aku sudah pasrah, apa yang akan aku lakukan jika aku tak lulus, aku sedih, aku menangis sejadinya, lama taufik menelusuri Koran itu, seolah menandakan namaku benar-benar tak ada, membuatku semakin jadi dalam tangisku,tiba-tiba taufik menepuk pundakku, dia tersenyum padaku, “sabar ye li!!!”belum sempat taufik melanjutkan, aku menangis sejadinya, “kau lulus!!!”taufik melanjutkan, tangis kami pecah, kami bertakbir semuanya, “ALLAHU AKBAR!!!” alam pagi itu menjadi saksi mimpi kami yang kami tanamkan di SMA itu.

Kini taufik sudah di Pertambangan ITB, begitupun dona sudah di Ekonomi UI, saat kami berpisah, kuingatkan, “ingat Ogan ilir menunggu!!!” itu pesanku, kuharap kami kembali membangun ogan ilir, menumbuhkan taufik, dona dan aku yang baru di ogan ilir. Aku berjalan dengan hidupku yang baru dikota ini, ayahku kini dengan tegap menjawab pertanyaan setiap orang yang datang kerumah, “oooo, ali udah kuliah, kuliah dimana???” Tanya pamanku yang sudah lama tak pulang dari luar kota, “di fakultas Kedokteran mang, dio lulus di Universitas Gajah Mada”jawab orang tuaku dengan kebanggaannya. kini Aku sadar,

“Berdoalah dan Bermimpilah maka biarlah tuhan mengabulkannya!!!”.

Nama : M. Dani Hamid Arma
NIM : 04081001003
Fakultas : Kedokteran
Prodi : Pend.Dokter Umum
Telp : 085268917651


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: